Dr. Andi Pratama, peneliti genomik dari Institut Teknologi Bandung, memperkenalkan layanan nutrigenomics pertama di Indonesia. Teknologi trisula 88 ini menganalisis DNA seseorang untuk menentukan pola makan yang paling sesuai dengan genetiknya.
“Setiap orang memiliki respons berbeda terhadap makanan karena variasi genetik,” jelas Dr. Andi. Tim penelitiannya mengembangkan tes DNA yang mengidentifikasi 50 variasi gen terkait metabolisme nutrisi. Hasil tes ini membantu merancang menu personal berdasarkan profil genetik individu.
Layanan ini telah membantu 1.000 klien dalam enam bulan pertama. Para klien melaporkan penurunan berat badan lebih efektif, peningkatan energi, dan berkurangnya masalah pencernaan setelah mengikuti rekomendasi diet berbasis DNA mereka.
“Tes DNA mengungkap mengapa beberapa orang sulit menurunkan berat badan dengan diet tertentu,” ujar Dr. Andi. Teknologi ini mengidentifikasi sensitivitas individu terhadap karbohidrat, lemak, dan protein, serta kebutuhan vitamin dan mineral spesifik.
Tim Dr. Andi bekerja sama dengan ahli gizi untuk menerjemahkan data genetik menjadi menu praktis. Mereka menciptakan aplikasi yang memberikan rekomendasi makanan real-time berdasarkan profil DNA pengguna.
Biaya layanan ini mencapai Rp5 juta, termasuk tes DNA, konsultasi ahli gizi, dan akses aplikasi selama setahun. “Investasi ini sebanding dengan manfaat jangka panjang untuk kesehatan,” tegas Dr. Andi.
Nutrigenomics membuka era baru dalam ilmu gizi personalisasi. Dr. Andi berencana mengembangkan database DNA khusus populasi Indonesia untuk meningkatkan akurasi rekomendasi diet. “Masa depan nutrisi adalah personalisasi berbasis sains,” tutupnya.